Rabu, 06 Maret 2013
resistensi difusi gas
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Unsur-unsur yang diperlukan oleh tumbuhan masuk ke dalam tubuh tanaman dengan pertukaran ion. Jika ion-ion yang masuk dan ion-ion yang ke luar pada sel-sel akar setimbang, maka tanaman belum dapat memperoleh unsu-unsur yang diperlukan. Tuka- menukar ion tidak saja terjadi di dalam sel-sel akar, akan tetapi kita dapat jumpai di seluruh bagian tubuh tanaman. Proses tukar-menukar zat terjadi di semua bagian yang berklorofil, di mana CO2yang masuk diganti oleh O2 yang ke luar, yaitu proses fotosintesis.
Molekul-molekul yang selalu bergerak disebabkan oleh adanya tenaga dinamik yang disebut energi kinetis. Penyebaran molekul-molekul suatu zat baik gas, maupun zat cair dan zat padat ke segala arah memiliki konsentrasi yang sama.
Dalam proses fotosintesis, karbon dioksida direduksi menjadi karbohidrat atas bantuan beberapa enzim tertentu dengan menggunakan energi metabolisme yang berasal dari radiasi matahari pada kondisi alami. Sumber karbon dioksida adalah atmosfer, sehingga gas ini harus ditransfer dari atmosfer ke tempat reduksi yaitukloroplas atau tepatnya stroma. Transpor ini berlangsung melalui proses difusi.Dalam proses transpornya, terdapat hambatan atau resistensi yang disederhanakanmenjadi resistensi lapisan atas, resistensi stomata, dan resistensi mesofil. Laporanini akan mengulas lebih lanjut mengenai resistensi difusi gas.
1.2 Tujuan
• Untuk mengetahui resistensi difusi gas pada tanaman.
• Memahami definisi resistensi dan definisi.
• Memahami definisi resistensi difusi gas.
o Memahami macam-macam resistensi difusi gas.
o Memahami faktor-faktor yang mempengaruhi resistensi difusi gas
BAB II.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Resistensi
• Resistensi adalah menunjukan pada posisi sebuah sikap untuk berperilaku bertahan, berusaha melawan, menentang atau upaya oposisi pada umumnya sikap ini tidak berdasarkan atau merujuk pada paham yang jelas. (Anonymousa, 2011)
• Resistensi adalah ketahanan pengangkutan bahan akibat gesekan penyusunnya. (Anonymousb, 2011)
• Resistensi adalah ketahanan suatu gas akibat mengalirnya suatu gas dari konsentrasi tinggi menuju konsentrasi rendah.(Prawirohartono, 2005)
• Resistance is a force, such as friction, that operates opposite the direction of motion of a body and tends to prevent or slow down the body’s motion. (Anonymousc, 2011) “Resistensi adalah kekuatan, seperti gesekan, yang beroperasi berlawanan arah gerak dari tubuh dan cenderung untuk mencegah atau memperlambat gerak tubuh.”
• Resistance is the capacity of an organism, tissue, or cell to withstand the effects of a harmful physical or environmental agent, such as a microorganism or pollutant. (Anonymousd, 2011). “Resistensi adalah Kapasitas dari suatu organisme, jaringan, atau sel untuk menahan efek dari agen fisik atau lingkungan berbahaya, seperti mikroorganisme atau polutan.”
2.2 Pengetian Difusi
• Difusi adalah pergerakan neto dari suatu tempat lain ke tempat lain, akibat aktivitas kinetik acak/gerak termal dari molekul/ion. (Salisbury et.all, 1995)
• Difusi adalah pergerakan partikel dari daerah partikel yang lebih pekat ke daerah yang partikelnya kurang pekat. (Loveless, 1987)
• Difusi adalah perpindahan dari konsentrasi tinggi ke tempat berkonsentrasirendah, tetapi hanya berlaku untuk gerakan suhu acak pada suatu molekul.(Soekartono, 1984)
• Diffusion is the movement of substances into a plant from it is surrounding is accomplished largely by the process.(Meyer, 1992). “Difusi adalah perpindahan substansi ke dalam tubuh tanaman dari area sekitarnya melalui sebuah proses.”
• Diffusion is the movement of molecules or ions, as a result of random motion of regions of high concentration to areas of low concentration. (Tjitrosomo et.all, 1993). “Difusi adalah perpindahan molekul atau ion, sebagai akibat gerak acaknya dari daerah berkonsentrasi tinggi ke daerah dengan konsentrasi rendah.”
• Diffusion is the movement of molecules or ions, as a result of random motion of regions of high concentration to areas of low concentration. (Anonymouse.2011). “Difusi adalah perpindahan suatu substansi dari tempat yang konsentrasinya tinggi ke tempat yang konsentrasinya rendah.”
2.3 Pengertian Resistensi Difusi Gas
• Resistensi Difusi Gas adalah ketahanan terhadap aliran/perpindahan gas-gas di sekitar tanaman. (Anonymousf, 2011)
• Resistensi Difusi Gas (RDG) ialah suatu ketahanan tanaman terhadap pergerakan gas dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah melalui mulut daun (stomata).(Anonymousg, 2010)
2.4 Macam-macam Resistensi Difusi Gas
• Resistensi Lapisan Batas (Ra)
Lapisan batas merupakan daerah perpindahan gas/zat cair yang bersinggungan debgan daun. Perpindahan bahang secara konveksi berlangsung lebih cepat bila lapisa batas itu lebih tipis(gradien suhu tajam)dan lebih lambat bila lapisan tersebut lebih tebal(gradien kurang tajam). Semakin cepat pergeran udara, lapisan batas semakin tipis. Dedaunan kecil seperti daun jarum konifer, memiliki lapisan batas paling tipis dan paling terpengaruholeh konveksi. Daunan lebar seperti palem kipas gurun pasir mempunyai lapisan batas paling tebal. (Salisbury et.all, 1995). ) Konsentrasi CO2 pada permukaan daun yang sering disebut efek lapisan batas tergolong hambatan luar yang timbul karena permukaan luar terdapat lapisan pembatas uap air di dalam difusi dari rongga stomata ke atmosfir uap air bergerak meninggalkan permukaan daun dengan difusi monokuler melalui satu lapisan batas di sekitar daun dan pada lintasan yang dilalui digambarkan dari sudut tanaman. (Anonymoush,2010)
• Resistensi stomata (Rs)
Jika stomata tertutup atau hampir tertutup, hambatan sangat tinggi. Jika terbuka, hambatan cukup rendah. (Salisbury et.all, 1995). Tahapan terhadap difusi CO2 dari luar ke daun melalui stomata. Faktor utama yang mempengaruhi Rs adalah tingkat membukanya stomata sehingga perhitungan dilakukan dengan cara mengukur banyaknya air yang hilang melalui daun yang merupakan hambatan oleh stomata dan difusi.(Gardner, 1991)
• Resistensi Mesofil
Sering disebut hambatan yang hampir konstan. Ukuran apa saja yang berhubungan dengan daun yang mempunyai pengambilan CO2 kecuali resistensi lapisan batas dan resisrensi stomata. (Salisbury et.all,1995). Merupakan ukuran apa saja yang berhubungan dengan daun dan mempengaruhi pengambilan CO2 melalui mesofil kecuali tahanan lapisan batas dan stomata karena apa saja yang mempengaruhi konsentrasi CO2 ke dalam kloroplas mempengaruhi laju difusi total CO2 dari udara ke kloroplas. Dihitung sebagai tahanan sisa terhadap pengambilan CO2 oleh daun. (Gardner, 1991)
2.5 Faktor yang mempengaruhi Resistens Difusi Gas
a)Kepadatan gas
Perbedaan difusi gas dipengaruhi oleh faktor lingkungan tertentu antara lain mengenai kepadatan relatif CO2. (Soekartono,1984)
b)Gradien tekanan difusi
Bila besarnya tahap perbedaan tahap difusi ini tinggi, maka kecepatan difusinya tinggi. (Heddy, 2003)
c)Morfologi daun
Pada tempat dengan intensitas cahaya tinggi menyebabkan penebalan daun yang menurunkan resistensinya terhadap difusi CO2 dengan meningkatkan ruang pori dalam lapisan mesofil. (Filler and Kay, 1998)
d)Angin
Angin yang sedang menambah kegiatan transpirasi, angin membawa uap air yang berada dekat stomata, uap yang masih ada dalam daun akan berdifusi keluar. (Dwijoseputro, 1992)
e)Temperatur
Kenaikan temperatur akan menaikkan difusi karena temperature akan menaikkan tenaga kinetis dari molekul substrat yang berdifusi.(Heddy, 2003)
f)Keadaan air dalam tanah
Air dalam tanah adalah satu-satunya sumber pokok, darimana akar tanaman mendapat air yang dibutuhkan. Absorbsi air melalui bagian- bagian lain yangada di atas tanah seperti batang dan daun juga ada, akan tetapi pemasukan air lewat bagian-bagian tersebut tidak sebanding penyebaran air melalui akar.(Dwijoseputro, 1992)
DAFTAR PUSTAKA
Anonymousa.2011.Resistensi.(online),(http://www.thefreedictionary.com/resistanc e, diakses tanggal 14 Otober 2011
Anonymousb.2011.Resistensi.(online),(http://id.wikipedia.org/wiki/resistance, diakses tanggal 14 Oktober 2011).
Anonymousc.2011.Resistance.(online),(http://www.indonesianindonesia.com, diakses tanggal 14 Oktober 2011)
Anonymousd, 2010.Resistensi.(online),(http://id.wikipedia.org/wiki/Resistensi. di unduh tanggal 14 Oktober 20101).
Anonymouse, 2010. Resistensi Difusi Gas. (online),(http://agrica.online.or.id/resist ensi-difusi-gas/, diunduh tanggal 14 Oktober 2011.)
Anonymousf, 2010.Macam-macam Resistensi Difusi Gas. (online),(http://agrica.online.or.id/macam-macam-resistensi-difusi-gas, Diakses pada 14 Oktober 2011).
Dwijoseputro. 1992. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia. Jakarta
Filter and Kay. 1998. Fisiologi Lingkungan Tanaman. UGM Press. Yogjakarta
Gardner. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. UI Press. Jakarta
Heddy. 2003. Biologi Pertanian. Rajawali Press. Yogjakarta
Loveless, A.R. 1987. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik. Gramedia. Jakarta.
Meyer, B. 1992. Plant Physiology Draw Nastran and Company Inc. New Jersey
Prawirohartono S. 2005. Sains Biologi. Jakarta : Bumi Aksara.
Salisbury, Frank B dan Cleon W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan. ITB. Bandung.
Soekartono. 1984. Fisiologi tumbuhan. Universitas Brawijaya. Malang.
Tjitrosomo, sitisoetarmi dan Nawang sari Sugiri. 1993. Biologi edisi kelima Jilid 1. Erlangga. Jakarta.
Rabu, 20 Februari 2013
CENDAWAN MIKORIZA ARBUSKULAR(CMA)
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Cendawan Mikoriza Arbuskular
Cendawan Mikoriza Arbuskular (CMA)
merupakan asosiasi antara cendawan tertentu dengan akar tanaman dengan membentuk
jalinan interaksi yang komplek. CMA merupakan kelompok jamur tanah obligat yang
tidak dapat tumbuh dan berkembang jika tidak bersimbiosis dengan tanaman
inangnya. Jika terpisah dengan tanaman inangnya CMA akan membentuk stuktur
tahan yaitu berbentuk spora tahan (klamidospora).Mikoriza berasal dari kata Miko (Mykes = cendawan) dan
Riza yang berarti Akar tanaman. Struktur yang terbentuk dari asosiasi ini
tersusun secara beraturan dan memperlihatkan spektrum yang sangat luas baik
dalam hal tanaman inang, jenis cendawan maupun penyebarannya. Mikoriza
merupakan asosiasi simbiotik antara akar tanaman dengan jamur. Asosiasi antara
akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah
dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang
biak. Mikoriza adalah kelompok fungi (jamur) yang bersimbiosis dengan tumbuhan
tingkat tinggi (tumbuhan berpembuluh,Tracheophyta) khususnya pada system
perakaran. Mikoriza memerlukan akar tumbuhan untuk melengkapi daur hidupnya.
Sebaliknya, beberapa tumbuhan bahkan ada yang tergantung pertumbuhannya pada
mikoriza. Beberapa jenis tumbuhan tidak tumbuh atau terhambat pertumbuhannya
tanpa kehadiran mikoriza di akarnya.
Macam-macam Mikoriza
Mikoriza di bagi
menjadi dua yaitu:
Endomikoriza
Endomikoriza adalah jamur yang
hifanya dapat menembus akar sampai bagian korteks. Misalnya yang terjadi pada
tanaman anggrek, sayuran (kol), dan pada berbagai jenis tumbuhan tinkat tinggi.
Endomikoriza penting untuk beberapa jenis tanaman polongan karena dapat
merangsang pertumbuhan bintil akar. Bintil akar dapat bersimbiotis dengan Rhizobium
sehingga mempercepat fiksasi nitrogen.
Ektomikoriza
Ektomikoriza adalah jamur yang
hifanya hanya sampai pada bagian epidermis akar pertumbuhan atau tidak sampai
menembus ke dalam korteks akar. Dengan adanya ektomikoriza, akar tumbuhan tidak
begitu memerlukan buylu akar. Tumbuhan tumbuhan tersebut dapat memperoleh air
dan unsure-unsur hara dari tanah dalam jumlah yang lebih banyak.
2.2 Faktor
yang mempengaruhi pertumbuhan mikoriza
·
Suhu
Penetrasi dan
perkecambahan hifa diakar peka pula terhadap suhu tanah. Pada umumnya infeksi
oleh cendawan MVA meningkat dengan naiknya suhu ,peran mikoriza hanya menurun
pada suhu diatas 40°C.
·
Kadar Air Tanah
Untuk tanaman yang
tumbuh didaerah kering, adanya MVA menguntungkan karena dapat meningkatkan
kemampuan tanaman untuk tumbuh dan bertahan pada kondisi yang kurang air
(Vesser et el,1984dalam Pujianto, 2001).
·
pH Tanah
Perubahan pH tanah melalui
pengapuran biasanya berdampak merugikan bagi perkembangan MVA asli yang hidup
pada tanah tersebut sehingga pembentukan mikoriza menurun (Santosa, 1989).
· Bahan
Organik
Jumlah spora MVA
tampaknya berhubungan erat dengan kandungan bahan organik didalam tanah. Jumlah
maksimum spora ditemukan pada tanah- tanah yang mengandung bahan organik 1-2
persen sedangkan pada tanah-tanah berbahan organic kurang dari 0,5 persen
kandungan spora sangat rendah (Pujianto, 2001).
·
Cahaya dan Ketersediaan Cahaya
Peran mikoriza yang
erat dengan peyediaan P bagi tanaman menunjukkan keterikatan khusus antara
mikoriza dan status P tanah. Pada wilayah beriklim sedang konsentrasi P tanah
yang tinggi menyebabkan menurunnya infeksi MVA yang mungkin disebabkan konsentrasi
P internal yang tinggi dalam jaringan inang (Santosa, 1989).
·
Logam Berat dan Unsur Lain
Aluminium diketahui
menghambat muncul jika ke dalam larutan tanah ditambahkan kalsium (Ca). Jumlah
Ca didalam larutan tanah rupa-rupanya mempengaruhi perkembangan MVA. Hal ini
mungkin karena peran Ca2+ dalam memelihara integritas membran sel.
·
Fungisida
Fungisida merupakan
racun kimia yang diracik untuk membunuh cendawan penyebab penyakit pada
tanaman, akan tetapi selain membunuh cendawan penyebab penyakit fungisida juga
dapat membunuh mikoriza, dimana pemakainan fungisida ini menurunkan pertumbuhan
dan kolonisasi serta kemampuan mikoriza dalam menyerap P.
2.3 Manfaat yang dapat diperoleh tanaman inang dari adanya asosiasi
mikoriza
1. Meningkatkan
penyerapan unsur hara
Tanaman yang bermikoriza biasanya tumbuh lebih baik
dari pada yang tidak bermikoriza, dapat meningkatkan penyerapan unsur hara
makro dan beberapa unsure hara mikro. Selain itu akar tanaman yang bermikoriza
dapat menyerap unsure hara dalam bentuk terikat dan tidak tersedia untuk
tanaman (Serrano, 1985 dalam Suhardi, 1992 dalam Rahayu dan Akbar, 2003).
Hubungan antara MVA dengan organisme tanah tidak bias diabaikan, karena secara
bersama-sama keduanya membantu pertumbuhan tanaman.
2. Tahan
terhadap serangan pathogen
Mikoriza dapat berfungsi sebagai pelindung biologi
bagi terjadinya infeksi patogen akar. Mekanisme perlindungan ini bisa
diterangkan sebagai berikut:
3. Sebagai
konservasi tanah
Fungi mikoriza yang berasosiasi dengan akar berperan
dalam konservasi tanah, hifa tersebut sebagai kontributor untuk menstabilkan
pembentukan struktur agregat tanah dengan cara mengikat agregat-agregat tanah
dan bahan organik tanah.
4. Mikoriza
dapat memproduksi hormon dan zat pengatur tumbuh
Fungi mikoriza dapat memberikan hormon
seperti auxin, sitokinin, giberellin, juga zat pengatur tumbuh seperti vitamin
kepada inangnya.
5. Sebagai
sumber pembuatan pupuk biologis.
6. Fungi
ini dapat diisolasi, dimurnikan dan diperbanyak dalam biakan monnesenil.
7. Isolat-isolat
tersebut dapat dikemas dalam bentuk inokulum dan sebagai sumber material
pembuat pupuk biologis yang dapat beradaptasi pada kondisi daerah setempat
(Setiadi, 1994).
8. Sinergis
dengan mikroorganisme lain
Keberadaan mikoriza juga bersifat sinergis denagn
mikroba potensial lainnya seperti bakteri penambat N dan bakteri pelarut
fosfat.
9. Mempertahankan
keanekaragaman tumbuhan
Fungi mikoriza berperan dalam mempertahankan
stabilitas keanekaragaman tumbuhan dengan cara transfer nutrisi dari satu akar
tumbuhan ke akar tumbuhan lainnya yang berdekatan melalui struktur yang disebut
Bridge Hypae.
2.4 Pengaruh
mikoriza pada penyerapan unsur hara tanaman
Tanaman yang bermikoriza tumbuh
lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza. Penyebab utama adalah mikoriza
secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro
maupun mikro. Selain daripada itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur
hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman (Anas, 1997).
Petani
organik sangat menghindari pemakaian pupuk kimia. Untuk memenuhi kebutuhan hara
tanaman, petani organik mengandalkan kompos sebagai sumber utama nutrisi
tanaman. Sayangnya kandungan hara kompos rendah. Kompos matang kandungan
haranya kurang lebih 1.69% N, 0.34% P2O5, dan 2.81% K. Dengan kata lain 100 kg
kompos setara dengan 1.69 kg Urea, 0.34 kg SP36, dan 2.18 kg KCl. Misalnya,
untuk memupuk padi yang kebutuhan haranya 200 kg Urea/ha, 75 kg SP 36/ha, dan
37.5 kg KCl/ha, membutuhkan sebanyak 22 ton kompos/ha. Jumlah kompos yang
demikian besar ini memerlukan banyak tenaga kerja dan berimplikasi pada naiknya
biaya produksi.
Mikroba
tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut
fosfat (P) dan kalium (K). Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P
cukup tinggi (jenuh). Namun, hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman
karena terikat pada mineral liat tanah. Di
sinilah peranan mikroba pelarut P. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari
mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Banyak sekali mikroba yang mampu
melarutkan P, antara lain Aspergillus, Penicillium, Pseudomonas, dan Bacillus
Megatherium. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P, umumnya juga berkemampuan
tinggi dalam melarutkan K.
Mikoriza
berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. Selain
itu, tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan.
Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus dan Gigaspora.
DAFTAR
PUSTAKA
Pujiyanto. 2001. Pemanfatan Jasad Mikro, Jamu Mikoriza dan Bakteri Dalam Sistem
Pertanian Berkelanjutan Di Indonesia: Tinjauan Dari Perspektif Falsafah
Sains. Makalah Falsafah Sains Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.
Bogor
Rahayu, Novi., dan Ade Kusuma Akbar.
2003. Pemanfaatan Mikoriza dan Bahan
Organik Dalam Rangka Reklamasi Lahan Pasca Penambangan. Karya Tulis Ilmiah.
Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura. Pontianak
Santosa, Dwi Andreas. 1989. Teknik dan Metode Penelitian Mikorisa
Vesikular-Arbuskular. Laboraturium Biologi Tanah Jurusan Tanah Fakultas
Pertanian Institut Pertanian Bogor. Bogor
Langganan:
Postingan (Atom)